TAPANULI SELATAN, http://Suarasumatranews.com – Spandukperingatan warga Desa Tanjung Medan, Kecamatan Tantom, Tapanuli Selatan, hanya jadi kertas kosong.
Buktinya, jumaat 26Juni 2026, dua unit Excavator Volvo dengan gagah melintas masuk ke wilayah yang sudah menyatakan menolak PETI. Ini bukan kebetulan. Ini indikasi kuat adanya transaksi di balik layar.
*Hukum Kalah Lawan “Uang Damai”*
Kedatangan 2 excavator itu awalnya memicu amarah warga. Namun akhirnya redam setelah ada “kesepakatan” dengan koordinator alat.
“Kalau sudah bisa masuk berarti bosnya sudah bayar PETI. Spanduk itu tidak ada artinya di mata mereka,” ketus salah satu tokoh masyarakat Tantom yang identitasnya dirahasiakan, jumaat subuh[26 Juni 2026]
*Negara Absen: 40 Excavator Bebas Merampok Batang Gadis*
Fakta yang lebih mengerikan: Di Sungai Batang Gadis, perbatasan Tapsel-Mandailing Natal, kini dikuasai sekira 40 excavator untuk PETI.
“40 alat berat itu tidak mungkin tumbuh dari tanah. Tidak mungkin Pemkab Tapsel, Pemkab Madina, Kapolres, Dandim, sampai Polda tidak tahu. Kalau tahu tapi diam, itu namanya pembiaran,” tegas sumber.
Ironisnya, setelah ada operasi dan penangkapan beberapa bulan lalu, PETI tidak mati. Malah “semakin merajalela”. Artinya ada yang kebal hukum.
*Korban Berjatuhan: Kebun Sawit Warga Dihabisi*
Jalur maut PETI kini merembet ke Angkola Selatan via Desa Gunung Baringin. Warga jadi korban.
“Di Gunung Baringin juga main PETI. Excavator lewat, pohon sawit warga hancur. Siapa yang ganti rugi?” ungkap tokoh masyarakat P.H.
*Pertanyaan Terbuka Untuk APH & Pemda Tapsel-Madina*
Sampai kapan spanduk warga akan terus diinjak alat berat? Sampai kapan 40 excavator bebas mengeruk emas negara tanpa pajak?
“Kalau APH dan Pemda masih bungkam, publik berhak bertanya: ada apa di balik 40 excavator ini? Siapa bekingnya?” pungkas sumber.
Hingga berita ini tayang, Kapolres Tapsel, Kapolres Madina, Bupati Tapsel, dan Bupati Madina belum memberikan jawaban atas maraknya PETI dan dugaan pungli PETI ini.
*Reporter: stn hrp






